Oleh : Y. Agung Widya, S.Hut
Taman Nasional Wasur merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai potensi keanekaragam yang sangat tinggi, salah satunya adalah keanekaragaman jenis-jenis burung migran. Sampai saat ini di TN Wasur telah tercatat 403 species burung dengan 74 species diantaranya endemik Papua dan diperkirakan terdapat 114 species yang dilindungi. Keberadaannya sebagai daerah lahan basah merupakan habitat penting bagi burung-burung air di Indonesia khususnya burung migran yang berasal dari Australia dan New Zealand dan memiliki arti penting bagi kepentingan internasional sebagai tempat persinggahan ribuan burung migrasi.
Kata migrasi diturunkan dari kata migrat (Latin) yang berarti pergi dari satu tempat ke tempat lain atau juga bermakna bepergian ke berbagai tempat (Peterson, 1986). Migrasi dalam kehidupan hewan dapat didefinisikan sebagai pergerakan musiman yang dilakukan secara terus menerus dari satu tempat ke tempat lain dan kembali ke tempat semula, biasanya dilakukan dalam dua musim yang meliputi datang dan kembali ke daerah perkembangbiakan (Alikondra, 1990).
Migrasi merupakan pola adaptasi perilaku yang dilakukan oleh beberapa jenis satwa liar. Pola migrasi yang dilakukannyapun berbeda setiap jenis satwa, tergantung pada keadaan, waktu dan berbagai penyebab keadaan. Ada yang melakukan migrasi karena satwa tersebut pergi untuk mendapatkan makanan, perkembangbiakan dan perubahan musim pada bumi belahan utara maupun selatan sehingga menuntut satwa berpindah untuk mempertahankan hidupnya, baik dari dingin maupun panas.
Pada dasarnya, Migrasi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu migrasi musiman dan migrasi harian. Migrasi musiman biasanya berhubungan dengan perubahan iklim. Migrasi ini dapat dilakukan menurut garis lintang, ketinggian tempat maupun secara lokal, sedangkan migrasi harian disebut juga pergerakan harian karena beberapa satwa liar melakukan pergerakan harian selama 24 jam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Salah satu contoh satwa yang melakukan migrasi setiap tahunnya adalah burung pantai yang mengembara dari tempat berbiakanya di daerah tundra Arktik menuju ke Selatan untuk menghindari musim dingin pada bulan September – April. Banyak burung-burung pantai yang beristirahat dan mencari makan di wilayah Asia. Sementara yang lainnya meneruskan perjalanan menuju Australia dan Selandia Baru. Pada Bulan Mei dan Agustus ketika musim panas tiba di belahan bumi utara, mereka kembali ke Utara untuk berkembang biak.
Rute perjalanan burung biasanya disebut sebagai jalur terbang (flyway) dimana jalur terbang untuk Asia Timur – Australasia merupakan salah satu dari beberapa jalur terbang di dunia. Pada jalur terbang ini terdapat rangkaian kawasan lahan basah dimana burung pengembara beristirahat dan makan, salah satunya di Taman Nasional Wasur.
Pada tanggal 6-11 November 2009 telah dilakukan survei oleh staf Wildlife Conservation Society — Indonesia Program (WCS-IP), didampingi oleh beberapa staf Taman Nasional Wasur melakukan survey tentang burung-burung air di TN Wasur. Adapun jenis-jenis burung air yang teridentifikasi di TN Wasur adalah berjumlah 46 jenis burung air. Diantara hasil survey tersebut ditemukan jenis burung pantai biru-Iaut ekor-hitam (Limosa Iimosa) berbendera yang ditandai di Cina berada di Rawa Dogamit SPTN Wilayah II Ndalir TN Wasur pada koordinat 08" 38' 16.3" S 140° 32’ 05.0" E. Hal ini nampak jelas dilihat dari posisi bendera yang terletak pada kaki burung sebelah kanan dengan warna putih hitam. Ini menunjukkan indikasi bahwa lokasi tersebut aktif dijadikan persinggahan burung migran pada saat melakukan migrasi ke selatan maupun ke utara.
TN Wasur telah banyak melakukan inventarisasi jenis-jenis burung yang ada di kawasan. Ada beberapa tempat yang menjadi objek kegiatan inventarisasi, salah satunya pada bulan Mei 2010 di hutan jarang melaleuca SPTN Wilayah II Ndalir merupakan habitat yang paling banyak dijumpai jenis burung yaitu sebanyak 27 jenis atau 61,36 % dari jenis-jenis burung yang ada, dengan jumlah populasi sebanyak 168 ekor. Lima belas jenis diantaranya hanya dijumpai di habitat tersebut, antara lain Kepudang sungu hitam, Cambuk papua, Sericornis, Bubut coklat, Remetuk, Kuka bura perut merah dan Ibis suci. Kemudian diikuti oleh habitat ecoton hutan jarang melaleuca & hutan monsoon sampai dengan habitat sekitar Rawa Dogamit.
Serta habitat hutan pantai merupakan daerah yang kurang dijumpai jenis-jenis burung yaitu hanya sebanyak 18 jenis atau 41 % dari total burung yang ada dengan jumlah populasi sebanyak 114 ekor dan beberapa jenis diantaranya hanya dijumpai di habitat tersebut, yaitu Trinil pantai, Camar angguk hitam, Undan kacamata / pelican, Dara laut jambon, Kirik-kirik Australia, Dara laut tengkuk hitam dan Dara laut kecil. Data tersebut merupakan hasil kegiatan ketika dilakukan musim penghujan.
Ketika musim kemarau, data jenis burung yang ada lebih banyak dibandingkan musim hujan. Berdasarkan hasil inventarisasi November 2008 Balai TN Wasur mencatat ada sejumlah 39 (tiga puluh sembilan) burung air di Rawa Dogamit dan 30 (tiga puluh) di Pantai Ndalir dan 52 (lima puluh dua) di hutan monsoon dan jarang melaleuca. Hal ini menunjukkan bahwa TN Wasur merupakan persinggahan burung-burung air ketika belahan bumi utara dingin.
Keberadaan burung migran di TN Wasur banyak terdapat pada daerah-daerah seperti rawa permanen yang tidak mengalami kekeringan sepanjang tahun seperti Rawa Dogamit dan Rawa Mblatar SPTN Wilayah II Ndalir. Daerah ini ketika musim kemarau merupakan tempat berkumpulnya berbagai jenis burung migran untuk mencari makan karena pada tempat tersebut ikan berkumpul dalam jumlah yang cukup banyak.
Pelestarian burung air bermigrasi tergantung pada pengelolaan yang memadai dari suatu jaringan kerja menyeluruh yang melibatkan lokasi yang memiliki kepantingan secara intemasional. Taman Nasional Wasur Sejak tahun 1996, sudah masuk dalam Jaringan Kerja Lokasi Jalur Terbang Asia Timur – Australasia. Di Indonesia sendiri hanya Taman Nasional Wasur yang targabung dalam kalompok kerja Jalur Tarbang Asia Timur - Australasia.
Ada beberapa permasalahan yang harus diperhatikan di dalam menjaga burung-burung migran dari bahaya kepunahan di Taman Nasional Wasur, antara lain :
a) Hilangnya habitat dan perubahannya.
b) Gangguan oleh manusia.
c) Pemangsa.
d) Adanya tanaman yang bukan tanaman asli yang mendominasi kawasan tarsebut.
e) Parubahan iklim.
Namun secara umum, terdapat 2 (dua) macam ancaman utama bagi burung pantai di Indonesia, yaitu perubahan peruntukan dan perusakkan habitat serta perburuan. Penggunaan racun dan pestisida dalam pertanian ditengarai juga merupakan ancaman potensial bagi burung air. Meskipun demikian, diperlukan penelitian yang lebih mendalam untuk menentukan tingkat gangguan yang ditimbulkannya.
Sampai saat ini tidak ada peraturan perundang-undangan khusus yang berkaitan dengan burung pantai di Indonesia. Undang-undang perlindungan yang ada saat ini adalah UU No. 5/1990 mengenai sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, yang kemudian didukung oleh PP No. 7 tahun 1999. Dibawah Undang-undang ini, sekitar 400 jenis burung di Indonesia telah mendapat perlindungan. Sayangnya, hanya 9 jenis burung pantai yang termasuk jenis yang dilindungi. Undang-undang tersebut melarang untuk menangkap memelihara dan memperjualbelikan jenis-jenis burung yang dilindungi, termasuk bagian-bagian tubuh dan telurnya, baik hidup maupun mati.
Indonesia telah menjadi anggota dari berbagai perjanjian dan kerjasama internasional dibidang perlindungan hidupan liar, termasuk burung pantai. Diantaranya seperti CITES dan Convention on Biodiversity. Pada tahun 1991, Indonesia telah meratifikasi Konvensi Ramsar mengenai lahan basah yang memiliki kepentingan internasional, khususnya sebagai habitat burung air. Melalui konvensi ini, setiap negara anggota mengajukan lokasi lahan basah tertentu yang telah memenuhi kriteria, sebagai lahan basah yang memiliki kepentingan internasional dan kemudian membuat dan melakukan rencana pengelolaan kawasan tersebut beserta sumber daya di dalamnya. Masyarakat internasional juga diharapkan dapat membantu usaha tersebut. Indonesia telah memasukan Taman Nasional Berbak di Jambi dan Taman Nasional Wasur di Papua sebagai situs Ramsar. Kedua kawasan tersebut telah diketahui sebagai lokasi penting persinggahan burung pantai yang bermigrasi.
Untuk perlindungan burung pantai migran, Indonesia juga telah turut serta dalam kesepakatan multilateral negara-negara di kawasan Asia dan Oseania yang disebut East Asian – Australasian Shorebird Site Network. Sama halnya dengan Konvensi Ramsar, dalam kesepakatan ini setiap negara anggota diharuskan untuk mengajukan lokasi-lokasi yang penting bagi persinggahan burung migran. Taman Nasional Wasur telah diajukan sebagai lokasi tersebut.
Ada beberapa hal yang menjadi cacatan kedepan di dalam menjaga keberadaan burung migran di TN Wasur agar terhindar dari kepunahan, antara lain :
a. Melakukan inventarisasi dan identifikasi potensi kawasan yang menjadi habitat burung-burung migran;
b. Memperbaiki atau memulihkan kerusakan habitat tumbuhan, satwa, atau ekosistem, di setiap kawasan konservasi pada prinsipnya dapat dilakukan pembinaan habitat yang dalam pelaksanaannya harus tetap memperhatikan prinsip-prinsip konservasi;
c. Untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas jenis tumbuhan dan satwa agar tetap berada dalam keadaan seimbang dan dinamis, di setiap kawasan konservasi pada prinsipnya dapat dilakukan pembinaan populasi yang dalam pelaksanaannya harus tetap memperhatikan prinsip-prinsip konservasi;
d. Kegiatan rehabilitasi dapat dilakukan di setiap kawasan konservasi dengan tetap memperhatikan segi teknis dan ilmiah. Rehabilitasi dilakukan atas dasar adanya kebutuhan untuk memperbaiki kondisi kawasan yang rusak atau menurun potensinya.
e. Melakukan kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan yang menjadi habitat burung migran;
f. Melakukan kegiatan penyuluhan secara kontinyu kepada masyarakat akan pentingnya keberadaan burung-burung migran.
g. Pembinaan daerah penyangga dititikberatkan pada upaya peningkatan hubungan yang harmonis antara masyarakat dan kawasan konservasi yang sedemikian rupa sehingga kehadiran kawasan konservasi dapat dirasakan manfaatnya.
Untuk bisa melihat perubahan yang ada di TN Wasur, perlu adanya monitoring yang dilakukan secara berkesinambungan, baik monitoring habitat maupun satwa yang ada terutama burung-burung migran. Identifikasi tempat – tempat yang diperkirakan sebagai tempat migran di Taman Nasional Wasur sehingga akan mendapatkan data yang berkelanjutan untuk monitoring sepanjang tahun.
Selengkapnya...
12 Januari, 2011
Limosa limosa si Burung Pengembara
11 Januari, 2011
Keragaman Hayati TN Wasur
Tipe Ekosistem :Terdapat 6 (enam) tipe ekosistem di kawasan Taman Nasional Wasur yaitu :
a. Ekosistem Rawa Berair Payau Musiman, terdapat di daerah Rawa Taram, Rawa Kitar-kitar hingga daerah Waam dan Samleber.
b. Ekosistem Rawa Berair Tawar Permanen, terdapat di daerah Danau Rawa Biru, Ukra, Maar dan Kankania.
c. Ekosistem Pesisir Berair Tawar, terdapat di daerah Mbo, Okilur, Rawa Pilmul dan Rawa Badek.
d. Ekosistem Daratan Berair Tawar, terdapat di sepanjang jalan Trans Irian.
e. Ekosistem Pesisir Berair Payau - Asin, terdapat di daerah sekitar pemukiman sektor pantai kecuali Kampung Kondo.
f. Ekosistem Daratan Berair Payau, terdapat di Kampung Wasur, Rawa Ndalir dan Kampung Sota.
Flora : secara umum jenis vegetasi di dalam kawasan TN Wasur dikelompokkan dalam 10 (sepuluh) kelas hutan yaitu Hutan Dominan Melaleuca sp, Hutan Co-Dominan Melaleuca sp - Eucalyptus sp, Hutan Jarang, Hutan Pantai, Hutan Musim, Hutan Pinggir Sungai, Hutan Bakau, Sabana, Padang Rumput dan Padang Rumput Rawa. Adapun vegetasinya didominasi oleh Melaleuca sp, Asteromyrtus symphiocarpa, Eucalyptus sp, Acacia sp, Alstonia actinopilla, Dilenia alata, Baksia dentata, Graminae sp, Pandannus sp, Cycas sp, Amorphopalus sp, Anggrek dan lain-lain.
Fauna : Keanekaragaman jenis fauna di Kawasan TN Wasur terdiri dari :
a. Mamalia
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan terdapat 34 spesies dari 80 spesies mamalia yang terdidentifikasi. Mamalia besar di kawasan TN Wasur adalah kangguru lapang (Macropus agilis), Kangguru hutan/biasa (Darcopsis veterum) dan Kangguru Tanah (Thylogale brunii). Disamping itu terdapat mamalia lain yaitu musang hutan (Dasyurus spartacus), Kuskus berbintik (Spilocuscus Petaurus breviceps) dikenal masyarakat setempat sebagai tupai dan lain-lain.
b. Aves (Burung)
TN Wasur memiliki keanekaragaman burung yang telah tercatat 403 species dengan 74 species diantaranya endemik Papua dan diperkirakan terdapat 114 species yang dilindungi. Jenis-jenis burung tersebut antara lain : Garuda Papua (Aquila gurneyei), Cenderawasih (Paradisea apoda novaguineae), Kakatua (Cacatua sp), Mambruk (Crown pigeons), Kasuari (Cassowary), Elang (Circus sp.), Alap-alap (Accipiter sp.) dan lain-lain. Disamping itu lahan basah yang dimiliki TN Wasur merupakan tempat yang sangat penting bagi burung migran dari Australia dan New Zealand seperti : Bagau abu-abu/Ndarau (Cranes Trans-fly), Pelikan, Ibis (Stra-necked, Glossy dan White), Boha (Magpie geese), Burung Pantai (Plovers, Australian Pratincole) dan Paruh sendok (Royal spoonbills).
c. Pisces (Ikan)
Kawasan TN Wasur merupakan lahan basah yang luas, dimana banyak kehidupan aquatik yang menjadi komponen penting bagi keanekaragaman hayati dalam kawasan. Teradapat 39 jenis ikan dari 72 jenis yang ada, yang 32 jenis diantaranya terdapat di Rawa Biru dan 7 jenis terdapat di Sungai Maro seperti Scleropages jardinii, Cochlefelis, Doiichthys, Nedystoma, Tetranesodon, Iriatherina dan Kiunga dan lain-lain.
d. Reptil dan Ampfibi
Hasil survey terdapat 26 jenis reptil yaitu 2 jenis buaya (Crocodylus porosus dan Crocodylus novaguineae), 3 jenis biawak (Varanus sp.), 4 jenis kura-kura, 5 jenis kadal (Mabouya sp.), 8 jenis ular (Condoidae, Liasis, Pyton) dan 1 jenis bunglon (Calotus jutatas) dan 3 jenis katak; katak pohon (Hylla crueelea), katak pohon irian (Litoria infrafrenata) dan katak hijau (Rona macrodon).
e. Insekta (Serangga)
Yang tercatat di TN Wasur terdapat 48 jenis, diantaranya : Rayap (Tumulitermis sp. dan Protocapritermis sp.), Kupu-kupu (Ornithoptera priamus), semut (Formicidae, Nytalidae, Pieridae) dan lain-lain. Selain jenis fauna asli, di dalam kawasan TN Wasur juga terdapat jenis-jenis fauna eksotik seperti : rusa (Cervus timorensis), Sapi (Bos sp.) serta bermacam-macam spesies ikan seperti :betik (Anabas testudineus), gabus (Crassis auratus), Mujair (Orechromis mossambica) dan Tawes (Cyprinus carpio). Selengkapnya...
28 Juli, 2008
Berita : Hari Lahan Basah Sedunia dirayakan di Taman Nasional Wasur Merauke
(www.kab.merauke.go.id, 28-07-2008)
Hari Lahan Basah Sedunia dirayakan di Taman Nasional Wasur Merauke. dan dihadiri Dirjen Konservasi PHKA Bapak, Ir Tatory MM yang diwakili oleh Bapak Ir.Noerhidayat, Muspida Kabupaten Merauke, Para undangan, Tokoh Adat, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, PNS dan Pelajar
Acara dibuka dengan Doa yang dipimpin oleh Sdr Upick.S ( Staf BTN Wasur ) dan dilanjutkan dengan Kepala Balai Taman Nasional Wasur, Ir. Tri Siswo Raharjo yang dalam sambutannya mengatakan bahwa tujuan dari acara ini adalah untuk mensosialisasikan tentang arti penting lahan basah sebagai penyangga kehidupan, meningkatkan pemahaman tentang lahan basah yang ada di Taman Nasional Wasur Yang merupakan Lahan Basah terbesar kedua didunia dan Pertama di Asia merupakan Aset Bangsa yang patut kita banggakan, Acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai macam lomba diantaranya, Lomba mewanai lahan basah untuk pelajar tingkat SD, dan untuk tingkat SLTA dan Perguruan Tinggi mengikuti lomba Karya Tulis tentang Lahan Basah. Dan pemenangnya akan diumumkan oleh Panitia Lomba. Sekaligus penyerahan hadiah bagi para pemenang.
Kemudian Bapak Ir.Noerhidayat membacakan sambutan tertulis oleh Dirjen Konservasi PHKA Bapak, Ir. Darori MM yang mengatakan lahan basah terkait dengan Konferensi Ramsar, Ramsar yang merupakan nama salah satu kota di Iran Timur Tengah yang dipakai sebagai sebuah perjanjian kerja sama Negara-negara Dunia yang disetujui pada Tanggal 2 Pebruari 1971 dimana Indonesia sendiri telah menandatangani Konferensi Ramsar melalui keputusan Presiden No 48 Tahun1991. Hal tersebut menandakan bahwa apa yang telah tertuang didalam Konferensi tersebut Indonesia turut mempertahankan dan turut bertanggang jawab. Saat ini Indonesia memiliki tiga lokasi Ramsar diIndonesia yaitu Taman Nasional Merbak di Riau, Taman Nasional Danau Sentarong di Kalimantan Barat dan Taman Nasional Wasur di Merauke Papua. Pada kenyataannya lahan basah menyimpan sumber daya alam yang sangat melimpah dan sangat produktif tidak hanya sebagai habitat ikan tetapi juga tumbuh berbagai jenis tumbuhan yang mempunyai nilai komersial tinggi sekaligus sebagai habitat burung air termasuk yang bersifat Migran sehingga sangat berpotensi untuk pengembangan tempat wisata. Dalam sambutan tertulisnya beliau menghimbau kepada semua warga masyarakat untuk ikut mejaga dan melestarikan Taman Nasioanal Wasur yang merupakan sumber penghidupan warga sekitar.
Kemudian Acara dilanjutkan dengan Sambutan Wakil Bupati Kabupaten Merauke Bapak Drs. Waryoto, M.Si yang dalam sambutannya Wakil Bupati mengatakan Taman Nasional Wasur memiliki peranan penting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia karena didalamnya terdapat Rawa Biru yang merupakan satu-satunya sumber Air Bersih Masyarakat Kota Merauke. Taman Nasional Wasur juga merupakan tempat persinggahan burung-burung migran dari negara tetangga seperti australia maupun papua new guinea selain dari kutub utara yang akan ke kutub selatan maupun sebaliknya.
Kemudian Acara dilanjutkan dengan peresmian Balai Konservasi dan Penelitian BOMI SAI yang terletak disamping kanan pintu masuk Taman Nasional Wasur Merauke Papua.
Selengkapnya...
09 Juli, 2008
Empat Suku dan TN Wasur Akan Buat Perda
(www.papuapos.com, 09-07-2008)
Merauke- Kepala Balai Taman Nasional Wasur, Tri Siswo Raharjo menjelaskan, jika tidak ada kesepakatan batas wilayah adat bagi empat suku di daerah Taman NAsioonal Wasur. Maka dalam waktu dekat dibuat rancangan Peraturan Daerah (Perda). Sebab mengingat wilayah Kepulauan Irian Barat sangat dominan dengan kebudayaan adat. “Kepulauan Irian barat sangat dominan dengan kebudayaan tradisonal adatnya, dan tidak adanya status jelas batas wilayah adat akan menjadikan konflik bagi masyarakat adatnya,” ungkap Tri.
Lanjutnya, dengan diadakannya lokakarya akan menjadi dasar penyempurnaan empat wilayah adat yang ada di TN Wasur. Sekaligus membangun persepsi bersama untuk perlindungan empat suku yang berada di wilayah TN Wasur. Tentu 4 suku ini, nantinya akan di masukkan dalam rancangan Perda.
Lokakarya digelar dua hari ini bertujuan, menyempurnakan kesepakatan hasil rapat Perdasi dan Perdasus, tentang hak batas wilayah masyarakat adat dari empat suku di TN Wasur, kabupaten Merauke. Memang, hingga kini belum disahkan pemerintah karena, adanya terjadi pro-kontra dari pimpinan adat.**
Selengkapnya...
30 Mei, 2008
Kangguru di Taman Nasional Wasur Merauke bertambah
(www.radartimika.com, 30-05-2008)
MERAUKE – Sebanyak 20 ekor Kanguru yang dilepas pihak PT Freeport Indonesia ke habitatnya di Kasawan Taman Nasional Wasur Merauke, kini sudah bertambah menjadi 28 ekor. Ini berarti selama dilepas di Taman Nasional Wasur Kanguru tersebut telah memiliki 9 anak. Sebab, dari 20 ekor yang dilepas (dikembalikan,red) saat itu, 1 ekor diantaranya mati.
Hal itu diungkapkan Kepala Balai Taman Nasional Wasur (TNW) Merauke. Tri S. Rahardjo, ketika ditemui, kemarin.
Perkembangbiakan Kanguru ini termasuk cepat. Jika tidak terganggu, rata-rata bisa beranak 1 kali dalam 1 tahun dengan jumlah anak 3 ekor.
Menurutnya, seekor anjing berhasil masuk ke dalam penangkaran dengan cara menggali tanah dan memakan satu ekor. Namun lanjutnya, pihaknya tidak pagar keliling dimana 20 ekor Kanguru tersebut dilepas dengan cara menggali tanah. ‘’Itu kita tidak lihat karena berada dalam hutan tapi yang jadi korban adalah Kanguru yang masih kecil karena baru lahir. Mungkin saat itu masih lemah dan stress shingga belum bisa menghindari karena kejadiannya baru sekitar 2 hari setelah dilepas ,’’katanya.
Dari 19 ekor tersisa itu, terangnya, sekarang sudah menjadi 28 ekor. Sedangkan 4 ekor lainnya masih berada di kantong Kanguru. Kira-kira 2 bulan kedepan lagi, sudah menjadi 32 ekor,’’ jelasnya.
Sebenarnya, lanjut Tri Rahardjo, perkembangbiakan Kanguru itu termasuk cepat. Jika tidak terganggu, rata-rata bisa beranak 1 kali dalam 1 tahun dengan jumlah anak 3 ekor. Apalagi, 19 ekor Kanguru yang dilepas di penangkaran itu diberi jaminan suplay makanan 2 kali sehari.
‘’Itu makanan tambahan dan sesekali kalau kita anggap perlu kita beri buah sebagai perangsang dan sebagai variasi makanannya," jelasnya.
Tri Rahardjo, mengharapkan dukungan dari PT Freeport. Menurut Tri Rahardjo, setiap bulannya, pihaknya harus mengeluarkan biaya antara Rp 2-2,5 juta untuk penyiapan makanan dan honor bagi petugasnya yang diambil dari masyarakat adat setempat.
Apalagi, terangnya, pengembalian Kanguru itu dilakukan pada saat tahun anggaran berjalan. ‘’Sekarang sudah 28 ekor. 2 bulan lagi menjadi 32 ekor. Nah, semakin lama akan semakin bertambah banyak dan memerlukan biaya semakin besar. (ulo)
Selengkapnya...
12 Desember, 2007
Freeport Melepasliarkan Kangguru ke Taman Nasional Wasur
(www.kompas.com, 11-12-2007)
JAYAPURA, SELASA - PT Freeport Indonesia (PTFI) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Departemen Kehutanan (Dephut) dan Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC) Sukabumi, Jawa Barat melepasliarkan 21 kangguru tanah (Thylogale brunii) ke Taman Nasional Wasur Merauke, Provinsi Papua.
Satwa langka yang dilindungi itu diterbangkan dari Timika. Kangguru tanah tersebut merupakan hasil sitaan di sejumlah tempat di DKI Jakarta dan Jawa Barat dengan dibantu oleh PPSC dan PPS Tegal Alur, Jakarta. "Sejak tahun 2003, terdapat enam kangguru tanah yang dipelihara di PPSC yang jumlahnya kemudian berkembang biak menjadi 22 ekor. Pada saat itu, 17 ekor dipulangkan ke Papua, lima ekor lainnya dipelihara di Balai Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan Jawa Barat," kata Mufi, dari Humas PT Freeport Indonesia.
Sebelum dilepasliarkan ke Taman Nasional Wasur, satwa ini dipelihara sementara di suatu areal di hutan Nayaro, Mimika yang disiapkan oleh PT Freeport Indonesia bekerja sama dengan PPSC, BKSDA Papua dan masyarakat Nayaro.
Masyarakat di perkampungan Nayaro, Timika, juga dilibatkan sejak proses awal pemulangan agar tumbuh rasa memiliki untuk menjamin kelangsungan hidup para satwa itu nantinya. Selama masa habituasi, kangguru tersebut telah berkembang biak menjadi 21 ekor sementara tiga ekor menunggu masa kelahiran yang masih dikandung induknya.
Sebelumnya, pada 28 Agustus 2006, PTFI bekerja sama dengan Jaringan Pusat Penyelamatan Satwa (JPPS) dan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Departemen Kehutanan melakukan hal serupa yaitu memulangkan 2.930 ekor kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta) ke habitatnya di Papua.
Kura-kura yang memiliki hidung seperti babi tersebut semula akan diselundupkan ke Taiwan dan China sebagai bahan makanan. Kura-kura tersebut ditahan oleh pihak Bandara Soekarno-Hatta, Banten dan Bandara Juanda di Surabaya saat akan diselundupkan ke luar negeri. (ANT/IMA)
Selengkapnya...
11 Januari, 2007
INFORMASI TAMAN NASIONAL DI INDONESIA
Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser
Jl. Raya Blangkejeren No. 37 Tanah Merah Kutacane
Po. Box. 16 Aceh Tenggara- 24601
Tlp.(0629) 21358
Fax.(0629)21016
Balai Taman Nasional Batang Gadis
Perumahan Cemara Madina Blok D No. 1
Panyabungan - Sumatera Utara
Balai Taman Nasional Siberut
Jl. Khatib Sulaiman No. 46 Padang
Tlp/Fax.(0751) 423094
atau
Jalan Raya M. Siberut - Maileppet Km. 3,5 Kec. Siberut Selatan
Tlp/Fax. 0759-21109
Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat
Jl. Basuki Rachmat No. 11 Kotak Pos. 40 Sungai Penuh, Jambi 37101
Tlp. 0748-22250, 22240
Fax. 0748-22300
Website: http://www.kerinciseblat.org
Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh
Jl. Lintas Timur Km. 3 Puncak Selasih Pematang Rebah-Rengat INHU Riau
Tlp/Fax.(0769) 7000030
Website: http://www.bukit30.org/
Balai Taman Nasional Bukit Duabelas
Jl. Komplek Perkantoran Pemerintah Kab. Sarolangun, Jambi
Tlp. 0741-62451
Balai Taman Nasional Berbak
Jl. Yos Sudarso Km. 4 PO Box 112 Sejinjang, Jambi
Tlp. (0741) - 31257, 7076277
Fax. 0741-31257
Balai Taman Nasional Sembilang
Jln. AMD Kelurahan Talang Jambe Kecamatan Sukarame
Palembang 30152
Telp. 0711-7839200
Balai Taman Nasional Bukit Barisan-Selatan
Jl. Ir. Juanda 19 Kota Agung,Tanggamus
Lampung Selatan 35751
Tlp/Fax. (0722) 21064
Balai Taman Nasional Way Kambas
Jl.Raya Labuhan Ratu Lama, Labuhan Ratu, Sukadana – Lampung Timur - 34196
Telp. 0725 7645024Fax . 0725 7645090
Website: www.waykambas.or.id
Email : program@waykambas.or.id, kabalai@waykambas.or.id
Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Jl. HR Soebrantas Km 8,5 Kotak Pos 1048
Tampan, Pekanbaru, Riau
Tlp/Fax. 0761-63135
website: www.wwf.or.id/tessonilo/
Balai Taman Nasional Ujung Kulon
Jl. Perintis Kemerdekaan No.51 Labuan, Serang, Pandeglang, Banten
Tlp.(0253) 801731, 804681
Fax. 0253-804651
Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu
Jl. Salemba Raya No. 9 Lt. III JakartaPusat 10440
Tlp. (021) 3915773, 3103574
Fax. (021) 3915773
Balai Taman Nasional Gunung Halimun
Jl. Raya Cipanas, Kabandungan Kotak Pos 2 Parung Kuda Sukabumi 43168
Tlp/Fax. (0266) 621256-57
website: www.tnhalimun.go.id
Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Jl. Raya Cibodas, Cipanas PO.Box 3 Cipanas,Cianjur, Jabar 43253
Tlp/Fax.(0263) 512776, 519415
Website: www.gedepangrango.org
Email: info@gedepangrango.org
Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Jl. Raya Kuningan - Cirebon Km. 9 No. 1
Manis Lor, Jalaksana, Kuningan - 45556
Tlp. 0232-6003357
Balai Taman Nasional Karimun Jawa
Jl. Menteri Supeno I / 2 Semarang 50241
Tlp/Fax. (024) 8319709
website: Website TN Karimun Jawa
Balai Taman Nasional BromoTengger Semeru
Jl. Raden Intan No. 6 PO. BOX 54 Malang- 65101
Tlp. (0341) 491828, 490885
Balai TamanNasional Gunung Merapi
Jl.Gedongkuning 172 A, Yogyakarta 55171
Telp/fax 0274-373324
Email: bksdayogya@yahoo.com
Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Jl. Merbabu No. 136 Boyolali - 57316, Jawa Tengah
Tlp. 0276 - 3293341, 3293347
Fax. 0276 - 3293342
Balai Taman Nasional Meru Betiri
Jl. Sriwijaya 53 Kode Pos 269 Jember 68101
Tlp. (0331) 335535
Fax. 0331-335384
E-Mail: meru@telkom.net
website: www.merubetiri.or.id
Balai Taman Nasional Baluran
Jl. K.H.Agus Salim No. 132 Mojopanggung- Banyuwangi 68425
Tlp.(0333) 424119
Fax. 0333-412680
Balai Taman Nasional Alas Purwo
Jl. Brawijaya No. 20 Banyuwangi 68416
Tlp. (0333) 410857
Fax. 0333-428675
Balai Taman Nasional Bali Barat
Jl. Raya Cekik Gilimanuk-Jembrana - Bali 82253
Telp. (0365) 61060
Fax. (0365) 61479
email : tnbb@telkom.net
website : www.tnbalibarat.com
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Jl. Arya Banjar Getas LingkarSelatan - Mataram, NTB
Tlp/Fax. (0370) 6608874
Website: http://tngr.dephut.go.id
Email: tngr@indo.net.id
Balai Taman Nasional Komodo
Jl. KasimoLabuan Bajo Ruteng, NTT 86554
Tlp. (0385) 41004, 41005
Fax. (0385) 41005
Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru
Jl. Jend. A. Yani Polu Bongga No.1
PO Box 153 Waikabubak, Sumba Barat, Nusa TenggaraTimur - 87212
Telp. (0387) 21357
Balai Taman Nasional Laiwangi Wanggameti
Jl. Matawai Amahu, Kampung Baru
Kel. Hambala, Waingapu, Sumba Timur, NTT - 87113
Telp. (0387) 61683
Balai Taman Nasional Kelimutu
Jl. Eltari No. 16 Ende Flores, Nusa Tenggara Timur
Telp. (0381)23405
Balai Taman Nasional Gunung Palung
Jl. Gajahmada,Kalinilam, Ketapang - Kalbar
Tlp/Fax.0534-32720, 9707345
Balai Taman Nasional Danau Sentarum
Jl. YC. Oevang Oeray No. 43 Sintang ~ Kalimantan Barat
Telp / Fax. (0565) 22242
Balai Taman Nasional Betung Kerihun
Jl. KS Tubun, Putussibau -Kalbar - 78711
Tlp. 0567-22282
Fax. 0567-21935
Balai Taman Nasional Bukit Baka- Bukit Raya
Jl. Dr.W. Sudiro Husodo No.75 Sintang 73112
Tlp./Fax. (0565)23521
Email. tnbbr@plasa.com
Balai Taman Nasional Tanjung Puting
Jl. HM Raf'i Km 2 Pangkalan Bun - Kalimantan Tengah
Tlp/Fax.(0532) 23832
Balai Taman Nasional Sebangau
Jl. Yos Sudarso No. 3 Kotak Pos 32 Palangkaraya - 73112
Tlp. 0536-3221268
Fax. 0536-3237034
Balai Taman Nasional Kutai
Jl. Awang Long Tromol POS I Bontang, Kalimantan Timur 75311
Tlp. (0548) 27218
Fax. 0548-22946
Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Jl Pusat Pemerintahan, Malinau 77554 Kalimantan Timur
Telp. +62 553 2022 758
Telp/Fax +62 553 2022 757
email: balai_tnkm@yahoo.com
Kantor Perwakilan (Sementara):
Jl Flamboyan No 6 RT 27 Karang Anyar, Tarakan 77111 Kalimantan Timur
Tel/Fax: +62 551 252
Balai Taman Nasional Bunaken
Jl. Raya Molas Kode Pos 1202 Batusaiki - Manado 95242
Tlp. (0431) 859022
Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Jl. AKD Mongkonai Kotak Pos 106 Kotamobagu - Sulawesi Utara
Tlp. (0434) 22548
Fax. 0434-22547
Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Jl. Prof. Dr. Moh. Yamin No. 21 Palu 94111 Sulawesi Tengah
Tlp. (0451) 457623
Balai Taman Nasional Kep. Togean
Jl. Sumber Ilmu No. 38 Sansarino, Kec. Ampara Kota, Kab. Tojo Una-Una - Sulteng -94683
Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Jl. S. Parman No. 40 Benteng Selayar 92812
Tlp. (0414)22111
Fax. 0414-21565
Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Jl. Poros Maros-Bone Km. 42 Bantimurung, Kab. Maros, Sulawesi Selatan
Telp. 0411-3881699, 3880252
Fax 0411-3880139
Email : tnbabul@tnbabul.org
Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
d/a Desa Lamowulu Kec. Binanggia, Kab. Konawe Selatan, Kendari - Sultra - 93721
HP. 086812101439
Balai Taman Nasional Kepulauan Wakatobi
Jl. Dayanu Ikhsanuddin No. 71 Bau-Bau Sultra93721
Tlp. (0402) 25652
Balai Taman Nasional Manusela
Jl. Kelang No. 1 Kotak Pos 09 Masohi - Maluku Tengah 97511
Telp/fax (0914) 22164
Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Jl. Bandara Sultan Babullah, Ternate, Maluku Utara
Balai Taman Nasional Teluk Cendrawasih
Jl. Trikora Wosi - Rendani 17 Kantor Pos 229 Manokwari 98312
Tlp. (0986) 212212
Fax. (0986) 214719
( Jl. Essau Sesa Sowi Gunung Kotak Pos 229, Manokwari - Papua Barat - 98312Tlp/Fax. 0986-214719 )
Balai Taman Nasional Lorentz
Jl. Raya Abepura Kotaraja PO Box 1217
Jayapura 99351,Papua
Telp. (0967) 581596; Fax (0967) 585529
Balai Taman Nasional Wasur
Jl. Garuda Lepro Seri No. 3
PO BOx. 109 Merauke 99611, Papua/Irian Jaya
Telp. (0971) 324532
Fax. (0971) 324532
Website : www.btnwasur.blogspot.com
Selengkapnya...
Video : Musamus
Rumah Semut begitu orang menyebutnya, padahal Musamus begitu sebutan penduduk lokal merupakan “istana” yang dibangun oleh koloni rayap. Menggunakan campuran dari rumput kering sebagai bahan utama dan liur sebagai semen untuk merekatkannya, dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk membangun istana rayap ini.
Keistimewaan dari rumah rayap ini adah rancangan ventilasinya yang berupa lorong-lorong yang membantu melindungi dari air hujan, dan membantu melepas panas ke udara ketika musim panas tiba. Karena berbagai keistimawaan yang dipunyainya, maka tidak heran musamus dijadikan lambang daerah Kabupaten Merauke.
Musamus ini hanya dapat ditemukan di beberapa tempat di dunia, dan untuk di Indonesia mungkin hanya ada di Merauke saja. Kita dapat menemukan Musamus di Taman Nasional Wasur dan di beberapa wilayah di Kabupaten Merauke.