(BTN Wasur, 05-02-2009)
Penulis: Y. Agung Widya, S. Hut
Kampung Wasur merupakan salah satu kampung yang berada dalam kawasan Taman Nasional Wasur Merauke yang terpilih untuk dijadikan salah satu Model Desa Konservasi dalam kawasan Taman Nasional Wasur. Masyarakat yang mendiami Kampung Wasur terdiri dari masyarakat asli yaitu masyarakat sub Suku Marori Men-gey dan beberapa kelompok masyarakat pendatang yang telah hidup berasosiasi dan berasimilasi dengan masyarakat asli sejak turun temurun. Tingkat kesejahteraan penduduk di Kampung Wasur masih sangat rendah.
Sebagian besar masih menggantungkan hidupnya dengan mengambil hasil-hasil dari hutan. Sedangkan di Kampung wasur terdapat usaha-usaha masyarakat yang telah dikembangkan secara tradisional yaitu usaha penyulingan minyak kayu putih dan penangkaran anggrek, namun belum dapat dikelola secara baik sehingga perlu dikembangkan. Dengan pembentukan Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) diharapkan dapat memberdayaan masyarakat di Kampung Wasur nantinya. Hal ini didukung oleh kebijakan Departemen Kehutanan mengenai pengembangan peran serta aktif masyarakat dalam setiap usaha konservasi dan pelestarian alam.
Maksud dari pembentukan SPKP ini adalah memberdayakan masyarakat melalui pelibatan peran serta aktif masyarakat secara langsung dalam penentuan jenis dan pelaksanaan kegiatan pembangunan hutan dan kehutanan khususnya di Kampung Wasur sebagai Model Desa Konservasi dalam kawasan TN Wasur. Dengan tujuan adalah mengembangkan swadaya masyarakat dalam kegiatan penyuluhan kehutanan di Kampung Wasur, membentuk SPKP dan merekrut serta mengembangkan Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) di Kampung Wasur, mengembangkan Kelompok-kelompok Masyarakat Produktif Mandiri (KMPM) yang berbasis pembangunan kehutanan.
Pembentukan SPKP di Kampung Wasur dilaksanakan setelah pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Pengkajian Desa Secara Partisipatif (PRA). Adapun tahapan pelaksanaanya yaitu :
a). Penyelenggaraan dialog multipihak dipimpin oleh Kepala Kampung yang diwakili oleh Sekretaris Kampung Wasur yang dihadiri oleh seluruh peserta diklat dan perwakilan pihak terkait. Dialog diawali dengan penyampaian hasil survey PRA berupa data mengenai potensi, permasalahan dan upaya tindak lanjut oleh TIM PRA yang didampingi fasilitator.
b). Setelah adanya kesepakatan dari dialog multipihak, kemudian dilakukan pemilihan badan pengurus dan anggota SPKP Kampung Wasur secara demokratis yang di sahkan oleh Kepala Kampung dalam hal ini diwakili Sekretaris Kampung Wasur.
c). Struktur organisasi SPKP kampung Wasur berdasarkan permusyawaratan kampung terdapat satu bidang tambahan yaitu Bidang Pemberdayaan Perempuan disamping bidang lainnya (Bidang Penyuluhan, Bidang Kerjasama, Bidang Bina Usaha).
d). Penyusunan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Anggaran Rumah Tangga (ART) SPKP dibuat oleh Badan Pengurus SPKP Kampung Wasur yang terpilih didampingi fasilitator yang disahkan pemerintahan Kampung Wasur.
e). Penyediaan sarana berupa kantor atau ruang sekretariat SPKP diberikan oleh pihak pemerintahan kampung yaitu penggunaan ruangan di Balai Kampung Wasur. Peralatan kerjakantor, ATK serta bahan-bahan pustaka diserahkan oleh Pihak Balai Taman Nasional Wasur mewakili Pusat Pembinaan dan Penyuluhan Departemen Kehutanan.
Adapun struktur organisasi SPKP Kampung Wasur adalah sebagai berikut :
1. Ketua : Fransisco Mahuze
2. Sekretaris : Armand Reinhard
3. Bendahara : Emeliana Gebze
4. Koordinator :
a. Bidang Penyuluhan : Januarius Wolo
Pembantu Bidang : Felix Rumlan, Frederikus G.
b. Bidang Kerjasama : Erwin Futunanembun
Pembantu Bidang : Hilarius G.,Yosep G.
c. Bidang Bina Usaha : Mikela Ndiken
Pembantu Bidang : Fransisca M., Enggelbertus M.
d. Bidang Pemberdayaan Perempuan : Dominika Kaize
Pembantu Bidang : Bernadeta Gebze, Rosalina
Badan pengurus dan anggota SPKP Kampung Wasur lebih didominasi oleh generasi muda dari Kampung Wasur yang mrupakan putra putri dari para tokoh masyarakat dan perwakilan dari kelompok-kelompok petani dan perwakilan dari marga-marga adat di suku Marori Men-gey Kampung Wasur. Adanya pembentukan Bidang Pemberdayaan Perempuan dalam struktur organisasi SPKP Kampung Wasur menunjukkan adanya penghargaan terhadap gender di masyarakat kampung dan adanya peran serta aktif dari kaum perempuan dalam program kegaiatan di Kampung Wasur. Kegiatan ini sangat disambut baik oleh masyarakat Kampung Wasur karena merupakan potensi yang baik bagi pelaksanaan program pembangunan hutan dan kehutanan di Kampung Wasur kedepan.
Adapun harapan kedepan setelah terbentuknya kegiatan ini adalah perlu adanya peningkatan kegiatan pemberdayaan sumber daya manusia dari pengurus dan anggota SPKP Kampung Wasur guna peningkatan kinerja kedepan. Pendampingan dari penyuluh kehutanan (Polhut dan PEH) dari Balai Taman Nasional Wasur harus sesering mungkin dilaksanakan guna pemberdayaan SPKP Kampung Wasur.
Selengkapnya...
06 Februari, 2009
Pembentukan Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) Kampung Wasur, Taman Nasional Wasur, Merauke
28 Juli, 2008
Berita : Hari Lahan Basah Sedunia dirayakan di Taman Nasional Wasur Merauke
(www.kab.merauke.go.id, 28-07-2008)
Hari Lahan Basah Sedunia dirayakan di Taman Nasional Wasur Merauke. dan dihadiri Dirjen Konservasi PHKA Bapak, Ir Tatory MM yang diwakili oleh Bapak Ir.Noerhidayat, Muspida Kabupaten Merauke, Para undangan, Tokoh Adat, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, PNS dan Pelajar
Acara dibuka dengan Doa yang dipimpin oleh Sdr Upick.S ( Staf BTN Wasur ) dan dilanjutkan dengan Kepala Balai Taman Nasional Wasur, Ir. Tri Siswo Raharjo yang dalam sambutannya mengatakan bahwa tujuan dari acara ini adalah untuk mensosialisasikan tentang arti penting lahan basah sebagai penyangga kehidupan, meningkatkan pemahaman tentang lahan basah yang ada di Taman Nasional Wasur Yang merupakan Lahan Basah terbesar kedua didunia dan Pertama di Asia merupakan Aset Bangsa yang patut kita banggakan, Acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai macam lomba diantaranya, Lomba mewanai lahan basah untuk pelajar tingkat SD, dan untuk tingkat SLTA dan Perguruan Tinggi mengikuti lomba Karya Tulis tentang Lahan Basah. Dan pemenangnya akan diumumkan oleh Panitia Lomba. Sekaligus penyerahan hadiah bagi para pemenang.
Kemudian Bapak Ir.Noerhidayat membacakan sambutan tertulis oleh Dirjen Konservasi PHKA Bapak, Ir. Darori MM yang mengatakan lahan basah terkait dengan Konferensi Ramsar, Ramsar yang merupakan nama salah satu kota di Iran Timur Tengah yang dipakai sebagai sebuah perjanjian kerja sama Negara-negara Dunia yang disetujui pada Tanggal 2 Pebruari 1971 dimana Indonesia sendiri telah menandatangani Konferensi Ramsar melalui keputusan Presiden No 48 Tahun1991. Hal tersebut menandakan bahwa apa yang telah tertuang didalam Konferensi tersebut Indonesia turut mempertahankan dan turut bertanggang jawab. Saat ini Indonesia memiliki tiga lokasi Ramsar diIndonesia yaitu Taman Nasional Merbak di Riau, Taman Nasional Danau Sentarong di Kalimantan Barat dan Taman Nasional Wasur di Merauke Papua. Pada kenyataannya lahan basah menyimpan sumber daya alam yang sangat melimpah dan sangat produktif tidak hanya sebagai habitat ikan tetapi juga tumbuh berbagai jenis tumbuhan yang mempunyai nilai komersial tinggi sekaligus sebagai habitat burung air termasuk yang bersifat Migran sehingga sangat berpotensi untuk pengembangan tempat wisata. Dalam sambutan tertulisnya beliau menghimbau kepada semua warga masyarakat untuk ikut mejaga dan melestarikan Taman Nasioanal Wasur yang merupakan sumber penghidupan warga sekitar.
Kemudian Acara dilanjutkan dengan Sambutan Wakil Bupati Kabupaten Merauke Bapak Drs. Waryoto, M.Si yang dalam sambutannya Wakil Bupati mengatakan Taman Nasional Wasur memiliki peranan penting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia karena didalamnya terdapat Rawa Biru yang merupakan satu-satunya sumber Air Bersih Masyarakat Kota Merauke. Taman Nasional Wasur juga merupakan tempat persinggahan burung-burung migran dari negara tetangga seperti australia maupun papua new guinea selain dari kutub utara yang akan ke kutub selatan maupun sebaliknya.
Kemudian Acara dilanjutkan dengan peresmian Balai Konservasi dan Penelitian BOMI SAI yang terletak disamping kanan pintu masuk Taman Nasional Wasur Merauke Papua.
Selengkapnya...
Video : Musamus
Rumah Semut begitu orang menyebutnya, padahal Musamus begitu sebutan penduduk lokal merupakan “istana” yang dibangun oleh koloni rayap. Menggunakan campuran dari rumput kering sebagai bahan utama dan liur sebagai semen untuk merekatkannya, dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk membangun istana rayap ini.
Keistimewaan dari rumah rayap ini adah rancangan ventilasinya yang berupa lorong-lorong yang membantu melindungi dari air hujan, dan membantu melepas panas ke udara ketika musim panas tiba. Karena berbagai keistimawaan yang dipunyainya, maka tidak heran musamus dijadikan lambang daerah Kabupaten Merauke.
Musamus ini hanya dapat ditemukan di beberapa tempat di dunia, dan untuk di Indonesia mungkin hanya ada di Merauke saja. Kita dapat menemukan Musamus di Taman Nasional Wasur dan di beberapa wilayah di Kabupaten Merauke.